Minggu, 20 November 2011

kajian tingkat motivasi terhadap pendapatan nelayan ikan tongkol di jawa barat


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA



2.1    Penelitian Terdahulu
            Menurut Nisa (2002), dalam penelitian yang berjudul Kontribusi Sektor Perikanan Laut Dalam Menunjang Perekonomian Jawa Timur,  produksi perikanan laut pada tahun 2001 – 2011 memiliki kecenderungan yang meningkat dengan pola musiman yang menunjukkan bahwa periode tri wulan ke empat (Oktober – Desember) memiiki nilai seasonal indeks tertinggi. Produksi perikanan laut Jawa Timur meningkat dengan pertambahan sebesar 632, 94 ton per tri wulan atau 2531, 76 per tahun. Peningkatan produksi pada sepuluh tahun yang akan datang terutama disebabkan oleh semakin meningkatnya penguasaan manusia terhadap teknologi penangkapan ikan.
         Menurut Miyanti (2000) dalam penelitian yang berjudul Analisa Efisiensi Ekonomis dan Prospek Agroindustri Perikanan Laut, jika dikaitkan dengan karakteristik agroindustri perikanan laut, maka dapat dipahami bahwa sudah menjadi sifar agroindustri perikanan laut dimana bahan bakunya yang berupa hasil-hasil tangkapan laut akan berfluktuasi karena adanya pengaruh musim, sehingga indeks musim permintaan akan sangat dipengaruhi oleh adanya musim ikan di samping faktor-faktor lain yang mempengaruhi permintaan seperti besarnya volume produk yang diminta di pasar ekspor maupun tingkat harganya.
         Menurut Hernawan (2002) dalam penelitian yang berjudul Analisis Ekonomi dan Prosepek Pengembangan Agroindustri Produk Perikanan aut, prospek pengembangan agroindustri perikanan laut adalah baik untuk masa mendatang karena berada pada daerah grey area dengan nilai IFAS 1,90 dan EFAS 2,08. Hal yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan peluang yang ada dengan mengatasi kelemahan intern yang dimiliki. Peluang yang dimiliki meliputi cuaca, kesadaran masyarakat, transportasi, kepercayaan pedagang, pengembangan wisata Puger sedangkan kelemahannya meliputi bahan baku, modal, produk sampingan, rekruitmen tenaga kerja, upah pekerja, tekhnologi, pemasaran dan kemasan produk yang dihasilkan.

Menurut Haryono (2005), dalam penelitian yang berjudul Studi tentang Diversifikasi Pekerjaan Keluarga Nelayan sebagai Salah Satu Strategi dalam Mempertahankan Kelangsungan Hidup, kehidupan nelayan serta tingkat pendapatannya memiliki ketergantungan pada lingkungan. Hal tersebut terutama terlihat pada nelayan tradisional. Ketergantungan dengan alam (musim) mengakibatkan mereka tidak bisa melaut sepanjang tahun. Hal tersebut berakibat lebih jauh pada ketidakstabilan dan ketidakteraturan penghasilan mereka. Untuk itu, dengan melakukan diversifikasi pekerjaan, bagi keluarga nelayan memiliki makna yang sangat berarti bagi kelangsungan ekonomi rumah tangganya. Hal ini terkait dengan ketidakteraturan dan ketidakstabilan penghasilan mereka dari hasil melaut.

2.2    Landasan Teori
2.2.1 Komoditas Ikan Tongkol
Ikan Tongkol (Auxis thazard) tersebar di perairan Kalimantan, Sumatera, Pantai India, Filipina dan sebelah selatan Australia, sebelah barat Afrika Barat, Jepang, sebelah barat Hawai dan perairan pantai Pasific – Amerika. Tongkol ini memiliki panjang tubuh mencapai 80 cm dan umumnya 30 – 50 cm. Jenis lainnya adalah Tongkol (Axuis Thazard), ikan ini hidup di daerah pantai, lepas pantai perairan Indonesia dan berkelompok besar. Panjangnya mencapai 50 cm, umumnya 25 – 40 cm. Jenis tersebar di seluruh perairan Indo Pasifik. Ikan tongkol merupakan salah satu komoditas utama ekspor Indonesia. Akan tetapi akibat pengelolaan yang kurang baik di beberapa perairan Indonesia, terutama disebabkan minimnya informasi waktu musim tangkap, daerah penangkapan ikan, disamping kendala teknologi tangkapnya itu sendiri, tingkat pemanfaatan sumber daya ikan menjadi sangat rendah. 
         Secara taksonomi, klasifikasi ikan tongkol adalah sebagai berikut :
Kingdom         : animalia
Phylum            : chordata
Sub phylum     : teleostei
Ordo                : batoidae
Family             : trigonidae
Genus              : dasyatis
Species            : dasyatis bleekery
                          auxis thazard
Ikan tongkol masih tergolong pada keluarga Scrombidae bentuknya seperti cerutu dan kulitnya licin. Sirip dada melengkung, ujungnya tirus dengan kedua ujungnya panjang dan pangkalnya bulat kecil. Ikan ini adalah perenang cepat dan terkuat diantara ikan – ikan laut bertulang. Dari jenisnya, ikan tongkol dapat kita bedakan menjadi dua yaitu ikan tuna yang mempunyai sisik kecil di seluruh tubuhnya, dan ikan banito yang sisiknya di bagian depan saja (Agus, 2009).

2.2.2 Teori Produksi
         Teori produksi sebagai alat guna melihat hubungan antara input dan output. Adanya teori produksi juga diharapkan dapat memberikan penjelasan dan peramalan yang terjadi dalam fase produksi. Fungsi produksi  adalah hubungan teknis antara faktor produksi (input) dengan ahsil produksi (output). Secara matematis hubungan teknis dapat ditulis Output = f (TK, M, T,S). Hubungan teknis berkaitan langsung dengan faktor produksi yang dapat dinyatakan bahwa produksi hanya bisa dilakukan degan menggunakan faktor produksi yang dimaksud. Bila faktor produksi tidak ada maka tidak ada juga produksi.produksi yang dihasilkan.
 a.      Produksi dengan menggunakan satu variabel bebas
         Produksi yang menggunakan satu variabel dan yang lainnya tetap misalnya antara manusia dan modal. Dimana manusia (tenaga kerja) sebagai variabel bebas sedangkan modal sebagai variabel tetap.hubungan produksi dimana terdapat satu variabel, dan yang lainnya tetap berlaku hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang, yaitu apabila faktor variabel mendapat penambahan terus menerus maka output semakin lama semakin menurun secara rata-rata.
b.      Produksi dengan menggunakan 2 variabel bebas
         Secara teoritis produksi menggunakan 2 variabel bebas dalam produksi adalah produksi yang memanfaatkan 2 faktor produksi yang dapat direkayasa misalnya tenaga kerja  dan modal, atau antara modal dengan teknologi.variabel yang paling sering dan mudah digunakan dalam analisis produksi “gaya” ekonomi ortodoks biasanya adalah faktor produksi tenaga kerja dan modal (Putong, 2005).


Gambar 2. Kurva Produksi

2.2.3  Teori Biaya
Biaya merupakan seberapa besar kontribusi yang dikeluarkan guna menjalankan proses produksi. Menurut Putong (2005), Secara teoritis  biaya dipandang dari sisi waktu dapat digolongkan menjadi 2 saja yaitu biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang. Hal mendasar dari perbedaan rentang waktu ini kecuali bahwa dalam jangka panjang secara teoritis semua biaya digolongkan sebagai biaya variabel. Biaya dalam jangka pendek dipandang dari sisi waktu dikelompokkan menjadi:
1.        Biaya tetap (Fixed Cost = FC), yaitu segala macam biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan tidak memandang apakah perusahaan itu sedang menghasilkan barang atau tidak. Secara teoritis jenis biaya ini sangat penting dan sangat krusial bagi perusahaan, karena setidaknya biaya tetap ini akan mempengaruhi operasional perusahaan dalam hal penentu tingkat impas, penentuan tingkat leverage dan maksimum biaya. Dalam tahap dimana perusahaan tidak berproduksi maka biaya tetap adalah merupakan biaya totalnya, jadi FC=TC.
2.        Biaya variabel (Variable Cost = VC) yaitu segala macam biaya yang dikeluarkan berhubungan dengan besar kecilnya unit produksi yang dihasilkan. Secara teoritis biaya variable dikelompokkan menjadi 3 macam yaitu:
a.              Biaya variabel yang bersifat progresif. Yaitu biaya variabel yang nilainya semakin besar seiring dengan semakin bertambahnya beban produksi.
b.             Biaya variabel yang bersifat proporsional yaitu biaya variabel yang proporsi nilainya sama dengan proporsi pertambahan beban produksi.
c.              Biaya variabel yang bersifat degresif yaitu biaya variabel yang nilainya semakin menurun seiring bertambahnya beban produksi.
       Oleh karena VC ini berhubungan dengan unit produksi maka VC=v*Q.
3.        Biaya Total (Total Cost = TC) adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan baik yang bersifat tetap atau  yang bersifat variabel. Sehingga TC=FC + VC. Oleh karena biaya variabel adalah salah satu unsur biaya total macam biaya biaya total pun mengikuti macam biaya variabel yaitu bersifat progresif, proporsional, dan degresif.
4.        Biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost = AFC) adalah proporsi biaya tetap terhadap jumlah produksi (output) atau setara dengan FC, Q.
5.        Biaya variabel rata-rata (Average Variable Cost = AVC) adalah proporsi biaya variabel terhadap jumlah produksi atau setara dengan VC, Q.
6.        Biaya total rata-rata (Average Total Cost = Average Cost = AC) yaitu proporsi biaya total terhadap jumlah produksi atau TC/Q , padahal TC = FC + VC, sehingga                                                                                                                                                                                                                                                     
 Q
 
Text Box:  Q
Q
 
FC + VQ  =  FC  +  VC = AFC + AVC = AVC + v
                                
       Jadi biaya total rata-rata tidak lain adalah jumlah biaya tetap rata-rata ditambah dengan biaya produksi/unit.
7.        Biaya Marginal (Marginal Cost = MC) yaitu tambahan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk penambahan unti yang diproduksi.



 








Gambar 3. Kurva Biaya TC, TFC, dan TVC
 
                                           


2.2.4 Teori Pendapatan
Menurut Rahim dan Diah (2007), penerimaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus berikut :
TR = Y x Py
di mana :
TR       : total penerimaan
Y         : produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani
Py        : Harga Y
Jika komoditas pertanian yang dibudidayakan lebih dari satu, maka rumus berubah menjadi :
TR = ∑ Yi . Pxi
Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya atau dengan kata lain pendapatan x meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor atau penerimaan total adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi (Rahim dan Diah, 2007). Pendapatan usaha tani dapat dirumuskan sebagai berikut :
Pd = TR – TC
TR = Y . Py
TC = FC + VC
di mana :
Pd        : Pendapatan usahatani
TR       : penerimaan total (total revenue)
TC       : total biaya (total cost)
FC       : biaya tetap (fixed cost)
VC      : biaya variable (variable cost)
Y         : produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani
Py        : harga Y

2.2.5    Teori Regresi Linear Berganda
         Teori regresi linier berganda dapat digunakan guna mencari keterkaitan ataupun hubungan kasual antara dua variabel yaitu variabel bebas dan terikat. Menurut Hasan (2006), Regresi linear berganda adalah regresi dimana variabel terikatnya (Y) dihubungkan atau dijelaskan lebih dari satu variabel, mungkin dua, tiga, dan seterusnya variabel bebas (X1,X2,X3,...,Xn) namun masih menunjukkan diagram hubungan yang linear. Penambahan variabel bebas ini diharapkan dapat lebih menjelaskan karateristik hubungan yang ada walaupun masih saja ada variabel yang terabaikan. Bentuk umum persamaan regresi linear berganda dapat dituliskan sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + ... + bkXk + e
Keterangan:
Y                                 =     variabel terikat
a, b1,b2,b3,...,bk            =     koefisien regresi
X1, X2, X3,...,Xk          =     variabel bebas
e                                  =     kesalahan pengganggu, artinya nilai-nilai dari variabel lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Nilai biasanya tidak dihiraukan dalam perhitungan.
Fenomena yang terjadi dalam bidang ilmu ekonomi, sosiologi, antropologi budaya, dan ilmu sosial lainnya sangat diwarnai oleh relativitas atau variable-variabel yang semula tidak terduga. Oleh karena itu, hubungan antar variable yang terjadi tidak dapat berlangsung secara pasti dan menampakkan garis regresi yang sempurna dimana yang paling mungkin adalah mendekati. Untuk itu, kita perlu melakukan penelusuran secara seksama untuk mengetahui bagaimana hubungan antar variabel yang terjadi. Apabila langkah tersebut ingin kita laksanakan ada tiga metode yang bisa kita terapkan yaitu Metode Diagram Pencar (Scatter Diagram Method), Metode Jumlah Kuadrat Terkecil (Least Square Method), Metode Tabel Korelasi (Corelation Table Method) (Santosa, dkk. 2007).

2.2.6 Metode Logika Fuzzy
Logika Fuzzy merupakan metode yang digunakan dalam analisis penentuan jumlah produksi. Penentuan jumlah produksi dengan menggunakan logika fuzzy dianggap mampu untuk memetakan suatu input kedalam suatu output tanpa mengabaikan faktor–faktor yang ada. Logika fuzzy diyakini dapat sangat fleksibel dan memiliki toleransi terhadap data-data yang ada. Dengan berdasarkan logika fuzzy, akan dihasilkan suatu model dari suatu sistem yang mampu memperkirakan jumlah produksi. Faktor–faktor yang mempengaruhi dalam menentukan jumlah produksi dengan logika fuzzy antara lain jumlah permintaan dan jumlah persediaan (Djunaidi dkk, 2005). Metode Logika Fuzzy memiliki tahapan kerja sebagai berikut yaitu :
1.    Identifikasi Data
            Identifikasi data dilakukan dengan penentuan variabel yang diperlukan dalam melakukan perhitungan dan analisis masalah. Perusahaan dalam melakukan proses produksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
            a. Jumlah Permintaan
            b. Jumlah Persediaan
            c. Jumlah Produksi
2.    Pembentukan himpunan fuzzy
            Pada metode mamdani baik variabel input maupun variabel output dibagi menjadi satu atau lebih himpunan fuzzy.
3.    Aplikasi fungsi implikasi
Pada metode mamdani, fungsi implikasi yang digunakan untuk tiap – tiap aturan adalah fungsi min.
4.    Penegasan (defuzzy)
            Proses penegasan (defuzzyfikasi) menggunakan bantuan software matlab dengan menggunakan fasilitas yang disediakan pada toolbox fuzzy. Selain itu,  Defuzzyfikasi pada komposisi aturan mamdani dengan menggunakan metode centroid. Dimana pada metode ini, solusi crisp diperoleh dengan cara mengambil titik pusat daerah fuzzy. Secara umum dirumuskan :                
                                                                     π (x)  =  i=1n  xiπ (xi) dx
                                                                                  i=1n π (xi) dx
Ada dua keuntungan menggunakan metode centroid, yaitu (Kusumadewi, 2002):
1. Nilai defuzzyfikasi akan bergerak secara halus sehingga perubahan dari suatu himpunan  fuzzy juga akan berjalan dengan halus.
2.  Lebih mudah dalam perhitungan.

2.3    Kerangka Pemikiran
Perikanan merupakan subsektor yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam pembangunan di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan dengan kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan dengan tiga per empat dari luas wilayah Indonesia atau sekitar 5,8 Juta km berupa lautan. Akan tetapi, tingkat produksi ikan laut atau maximum sustainable yield seluruhnya baru sekitar 58,5 % yang dimanfaatkan. Tentu saja hal tersebut berbanding lurus dengan pendapatan nelayan di Indonesia. Pendapatan nelayan di Indonesia termasuk kategori rendah dengan biaya produksi sedemikian besar namun hasil tangkapan dan harga jual ikan justru ada di bawah biaya produksi.  Untuk itu, pembangunan pertanian untuk sub sektor perikanan di Indonesia masih perlu dibenahi dan ditingkatkan. Potensi perikanan laut daerah sebenarnya cukup tinggi akan tetapi pada kenyataannya masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan potensi perikanan yang memberikan sumbangsih besar dalam perekonomian nasional. Potensi perikanan laut di Jawa Barat mencapai 237. 350.595,57 kg/tahun dengan tingkat prosentase 72,86% dan tersisa 27,14 %. Seharusnya hal tersebut dapat dioptimalkan sehingga tercapai hasil yang maksimum.
Komoditas ikan tongkol merupakan salah satu komoditas hasil laut yang dihasilkan di Rancabuaya Garut dan termasuk komoditas penting yang ditangkap oleh nelayan di Garut guna diperjualbelikan. Hal tersebut dikarenakan harga ikan tongkol yang cukup tinggi yaitu kisaran Rp 9.500,00 sampai Rp 13.500,00. Selain itu, daging tongkol cukup diminati konsumen dikarenakan dapat diolah menjadi aneka makanan dan lauk pauk yang memiliki nilai jual tinggi.
Rancabuaya Garut Jawa Barat merupakan salah satu daerah yang menjadi sorotan pemerintah Jawa Barat dalam meningkatkan potensi perikanannya. Produksi perikanan yang ada di sana menyumbang cukup besar dalam perekonomian daerah di provinsi Jawa Barat. Akan tetapi, tahun-tahun terakhir kondisi perkonomian nelayan di Garut termasuk dalam taraf memprihatinkan. Produksi ikan di Garut mulai menurun seiring dengan meningkatnya biaya produksi sehingga nelayan di Garut banyak yang mengalami kerugian dan tingkat pendapatan yang semakin menurun.
Kondisi cuaca merupakan salah satu faktor alam yang tidak dapat dikendalikan.  Keadaan cuaca dan iklim yang ekstrim dapat mempengaruhi tingkat produksi ikan. Bila cuaca buruk dengan indikator iklim tidak menentu maka produksi ikan tidak menentu atau bahkan hasil yang diperoleh tidak maksimal. 


Daya beli masyarakat merupakan indikator yang mempengaruhi pendapatan. Daya beli masyarakat yang tinggi berbanding lurus dengan tingkat pendapatan nelayan. Selain itu, pendapatan nelayan juga ditunjang dengan tingginya harga jual ikan hasil tangkapan.
  Tingkat produksi yang semakin menurun juga mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan. Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi menurunnya produksi tangkapan ikan di Garut merupakan permasalahan utama yang dihadapi. Salah satu diantara faktor-faktor tersebut ialah kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga mengakibatkan nelayan kesulitan melaut. Selain itu, harga jual ikan juga rupanya tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh para nelayan. Daya beli masyarakat yang menurun terhadap komoditas tertentu menjadi salah satu penyebab nelayan mengalami kerugian. Untuk itu, disini peran aktif pemerintah baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu ditingkatkan dan diperbaiki sehingga kendala cuaca dan pasar dapat diatasi dengan baik.






















Rounded Rectangle: Perikanan











 
























Gambar 2.2 Skema Kerangka Pemikiran

2.4    Hipotesis
1.             Tingkat produksi nelayan ikan tongkol di Rancabuaya Garut Jawa Barat tinggi.
2.             Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat produksi nelayan ikan tongkol di Garut yaitu cuaca, daya beli masyarakat, dan harga jual ikan yang rendah.
3.             Tingkat pendapatan nelayan ikan tongkol di Rancabuaya Garut Jawa Barat rendah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com